Cari artikelmu di sini

  • ()
thumbnail

Juru Sembelih Halal (JULEHA), Kompetensi yang Dibutuhkan di Industri Pangan Halal

Siapa yang tidak kenal Sate Matang. Benar sih semua sate yang dimakan itu pasti matang. Namun, yang dimaksud Matang disini adalah Sate yang asalnya dari daerah Matang, Bireuen, Aceh. Bagi yang belum pernah menikmatinya saya sarankan kalua ke Aceh untuk mencobanya. Tapi, di artikel ini saya tidak membahas masalah kuliner yang satu ini melainkan bahan utamanya yaitu daging.


Bayangkan saja jika daging yang diolah tersebut tidak halal dimakan. Di dalam syariat islam terutama di negara Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam tentunya sumber bahan makanan harus halal.

Islam mengajarkan pemeluknya untuk mengkonsumsi makanan yang halal. Makanan halal dikategorikan menjadi halal karena sumbernya dan karena prosesnya. Sumber makanan yang berasal dari hewan yang diharamkan seperti anjing, babi, hewan yang bertaring secara umum itu masuk kategori haram. Sementara haram dari proses itu seperti makanan yang diperoleh dari hasil mencuri, atau memproses bahan makanan yang bercampur dengan najis. Selain itu, di dalam memproses protein hewani itu memiliki syarat lain yaitu di sembelih dengan cara yang baik dan sesuai dengan tuntunan syariat.

Standar Syariat Islam dalam Menyembelih Hewan

Pada prinsipnya hewan yang disembelih sesuai dengan syariat adalah hewan yang disembelih dengan cara memotong bagian leher hewan dengan pisau yang tajam dengan mengucapkan asma Allah dan memutus 3 saluran (saluran napas, saluran makanan, dan nadi). Di syariat islam menetapkan 5 poin yang penting untuk diperhatikan sebagai syarat daging hewan sembelihan supaya halal dimakan. Poin-poin ini berdasarkan Al-Qur'an, Hadist, dan Konsensus Ulama.

Pertama, kondisi hewan sembelihan harus dalam keadaan hidup. Menyembelih hewan yang telah mati tidak membuat daging sembelihannya halal dimakan karena hewan yang telah mati dikategorikan bangkai.

Kedua, orang yang menyembelih harus berakal dan sudah memasuki usia tamyiz, baik laki-laki dan juga perempuan. Sembelihan dari orang tidak berakal, gila, mabuk, dan anak kecil yang belum mampu membedakan antara baik dan buruk tidaklah halal dimakan.

Ketiga, penyembelih harus beragama Islam atau termasuk ahli kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani. Sembelihan dari ahli kitab tetap halal selama tidak menyebut nama selain Allah saat proses penyembelihan. Sebaliknya, sembelihan dari orang musyrik tidak halal dimakan.

Keempat, saat menyembelih menyebut nama Allah. Jika penyembelih dengan sengaja tidak menyebut nama Allah saat menyembelih ternak maka dagingnya haram dimakan.

Kelima, alat yang digunakan untuk menyembelih haruslah tajam, seperti pisau dari besi atau logam, dengan pengecualian dari bahan tulang dan kuku. Penggunaan pisau yang tajam bertujuan untuk tidak menyakiti hewan secara perlahan. Pisau yang tajam akan mempercepat proses penyembelihan dan memutuskan 3 saluran sekaligus (saluran napas, saluran makan, dan urat nadi).

Profesi yang Menuntut Profesionalisme 

Bagi seorang JULEHA memahami ajaran agama Islam saja tidaklah cukup, ada aspek lain yang perlu dipahami seperti memahami SOP kerja juru sembelih, kecakapan teknis, pemahaman terhadap alat yang digunakan, dan kesiapan fisik serta mental. Seorang JULEHA akan ditempa untuk benar-benar memikili keterampilan jagal dan profesionalisme yang tinggi. Sehingga sangat berbeda dengan juru sembelih yang tidak tersertifikasi.

Profesi juru sembelih halal yang tersertifikat saat ini sangatlah sedikit jumlahnya bahkan di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Juru sembelih halal yang tersertifikat seharusnya menjadi perhatian pemerintah. Juru sembelih halal tersertifikat akan menjadi "stempel" untuk produk hewan yang beredar di masayarkat. Jika satu RPH (Rumah Potong Hewan) memiliki juru sembelih halal tersertifikat masyarakat memiliki keyakinan untuk mengkonsumsi produk hewan yang dihasilkan RPH tersebut. Ini sama saja dengan konsep makanan yang beredar di pasaran dengan stempel logo HALAL.

Apakah Anda tertarik menjadi seorang juru sembelih halal?

Bagi siapapun yang ingin mendapatkan sertifikat Juru Sembelih Halal dapat melakukan uji kompetensinya di TUK (Tempat Uji Kompetensi) Peternakan yang ada di kota mu. Pastikan Uji Kompetensi yang tersedia di bawah BNSP (Badan Nasional Standarisasi Profesi), sehingga sertifikat yang diperoleh dapat diakui secara nasional. Tentunya Anda bisa terjun di dunia industri penjagalan/abbatoir. Untuk tahu info lebih lanjut mengenai JULEHA kamu juga bisa mengunjungi laman situs daringnya di sini.  

thumbnail

Ancaman Tersembunyi dari Penggunaan Antibiotik Sembarangan

Pernahkah Anda menikmati ayam bakar dengan bumbu rempah dan mentega yang gurih, juicy, dan smoky? Hidangan ini memang menggugah selera. Namun, pernahkah terpikir bahwa daging ayam yang Anda konsumsi mungkin mengandung residu antibiotik?


Mengapa Keamanan Pangan Jadi Isu Penting?

Dalam beberapa tahun terakhir, isu keamanan pangan semakin mendapat perhatian. Hal ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap kontaminasi bahan pangan oleh zat berbahaya, termasuk residu antibiotik.

Antibiotik yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui pangan tidak hanya berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan, tetapi juga dapat memicu munculnya penyakit baru, terutama akibat resistensi mikroba.

Antibiotik: Bermanfaat atau Berbahaya?

Pada dasarnya, antibiotik bukanlah musuh. Sejak ditemukannya penisilin, antibiotik telah menjadi penyelamat jutaan nyawa dengan kemampuannya melawan mikroorganisme patogen.

Masalah muncul ketika antibiotik digunakan secara tidak tepat, seperti:

  • Dosis yang tidak sesuai
  • Penggunaan tanpa indikasi medis
  • Kurangnya pengawasan dalam industri peternakan

Akibatnya, manfaat antibiotik berubah menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia dan lingkungan.


Penggunaan Antibiotik dalam Industri Peternakan

Dalam sistem produksi ternak modern, terutama pada ayam broiler, antibiotik sering digunakan sebagai feed additive atau pemacu pertumbuhan (growth promoter).

Salah satu contoh yang umum digunakan adalah Zn-bacitracin.

Beberapa fakta penting:

  • Sekitar 40% antibiotik digunakan sebagai aditif pakan unggas
  • Antibiotik juga tersedia dalam bentuk premix dan suplemen pakan
  • Penggunaan dosis rendah seperti penisilin dan tetrasiklin (5–10 g/ton pakan) pernah menjadi praktik umum

Meskipun ada aturan seperti withdrawal time (penghentian sebelum panen), pertanyaan besarnya adalah: apakah ini benar-benar menjamin keamanan?

Apakah Larangan Antibiotik Akan Mengganggu Produksi?

Menariknya, berbagai studi menunjukkan bahwa:

  • Penghentian antibiotik dosis rendah tidak selalu berdampak signifikan terhadap performa produksi unggas
  • Industri dapat beradaptasi dengan penggunaan alternatif lain

Bahkan, jika antibiotik seperti penisilin dan tetrasiklin dilarang, produktivitas tetap dapat dipertahankan dengan strategi yang tepat.

Alternatif Pengganti Antibiotik dalam Pakan Ternak

Untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas dan keamanan, berbagai alternatif mulai dikembangkan, antara lain:

  • Probiotik dan prebiotik
  • Enzim pakan
  • Asam organik
  • Imunostimulan
  • Bakteriosin dan bakteriofag
  • Aditif fitogenik (tanaman herbal)
  • Minyak esensial
  • Nanopartikel berbasis bioaktif

Tujuan utama dari alternatif ini adalah:
✔ Menjaga performa ternak
✔ Menekan angka kematian
✔ Meningkatkan efisiensi pakan
✔ Melindungi kesehatan konsumen
✔ Menjaga kelestarian lingkungan

Kesimpulan: Saatnya Produksi Ternak Lebih Bertanggung Jawab

Penggunaan antibiotik dalam peternakan memang memberikan keuntungan jangka pendek. Namun, dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan tidak bisa diabaikan.

Produksi ternak masa depan harus mengarah pada sistem yang:

  • Aman untuk dikonsumsi
  • Ramah lingkungan
  • Berkelanjutan

Kesadaran peternak, regulasi yang ketat, serta inovasi dalam pakan menjadi kunci utama untuk mengatasi ancaman tersembunyi ini.

thumbnail

Penelitian Kualitatif, Deskripsi, Karakteristik, dan Contohnya di Bidang Peternakan


Setelah sebelumnya kita membahas penelitian kuantitatif. Kali ini kita coba mengulas penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dicirikan dengan pengumpulan data yang berbetuk naratif. Data jenis ini sangat bergantung pada penjelasan dari sudut pandang si peneliti.

Pendahuluan

Pernahkah kita menyadari atau bertanya mengapa seseorang mengambil keputusan tertentu, bagaimana sebuah tradisi atau budaya dapat bertahan secara turun-temurun? atau bagaimana seseorang berperilaku sehari-hari. Pertanyaan yang didasarkan "mengapa" dan "bagaimana" akan sulit dijawab jika hanya menggunakan data angka dan pengujian hipotesis semata. Oleh karena itu penelitian kualitatif diperlukan. 


Kedalaman makna, pengalaman subjektif, dan realitas sosial dari sudut pandang partisipan penelitian akan menjadi kunci jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Memang lumrahnya penelitian jenis ini banyak diterapkan pada bidang sosial. Dan mengkaji fenomena-fenomena sosial yang dinamis dan holistik. 

Pendekatan ini menitikberatkan pada penalaran induktif. Jenis logika ini dikenal dengan istilah Bottom Up. Peneliti akan mengumpulkan data-data di lapangan dan akan membuat suatu pernyataan umum dari data-data tersebut. Tentunya si peneliti harus pandai menafsirkan data yang diperoleh. Keandalan peneliti sangat penting di dalam penelitian kualitatif ini.

Apa itu penelitian kualitatif?

Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena secara mendalam, melalui pengumpulan data yang bersifat deskriptif dan analisis yang bersifat intepretatif. Metode ini sering disebut juga sebagai penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah. Makna alamiah disini adalah peneliti tidak menyusun rancangan penelitian terlebih dahulua dengan memanipulasi faktor-faktor ataupun variabel. Peneliti akan melihat langsung atau melakukan wawancara langsung untuk mengumpulkan data penelitian. 

Para ahli tidak sama dalam mendefinisikan penelitian kualitatif namun bisa saling melengkapi. Manurut Meolong, penelitian kualitatif bertujuan menggambarkan dan mamahami fenomena yang dialami oleh subjek secara meneyeluruh melalui bahasa dan kata-kata dalam situasi yang spesifik. Menurut Sugiyono menjelaskan bahwa metode penelitian kualitatif berakar dari pemikiran filosofis, menggunakan peneliti sebagai alat utama dalam pengumpulan data, serta menganalisis data secara non-numerik dengan fokus pada makna. Creswell menambahkan bahwa penelitian kualitatif adalah pendekatan yang digunakan untuk menelusuri dan memahami makna yang dimiliki oleh individu atau kelompok terkait permasalahan sosial tertentu.

Secara sederhana, penelitian kualitatif bisa dipahami sebagai upaya memahami dunia dari perspektif orang lain. Bukan sekedar menghitung berapa banyak orang yang melakukan sesuatu, tetapi memahami mengapa mereka melakukannya, bagaimana perasaan mereka, dan paa makna tindakan tersebut bagi kehidupan mereka. Pendekatan ini sangat berguna ketika variabel penelitian belum terdefinisikan secara jelas dan peneliti masih dalam tahap eksplorasi.

Karakteristik Penelitian Kualitatif


Penelitian kualitatif memiliki sejumlah karakteristik khas yang membedakannya dari penelitian kuantitaif. Berikut ini ciri-ciri utama penelitian kualitatif:
  1. Penelitian kualitatif menyelidiki "mengapa", "bagaimana", "apa", "di mana", dan "kapan" di balik pengambilan keputusan. Pertanyaan-pertanyaan ini bersifat eksploratif dan tidak dapat dijawab hanya dengan data statistik.
  2. Penelitian kualitatif menggunakan sumber data dari situasi dunia nyata. Peneliti terjun langsung ke lapangan, mengamati perilaku dan interaksi sosial dalam konteks alaminya tanpa manipulasi.
  3. Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif-narasi lisan, gambar, dokumen, atau rekaman kejadian-bukan angka. Fokusnya pada makna dan pemahaman mendalam terhadap fenomena.
  4. Analisis data dilakukan secara induktif. Artinya, peneliti memabngun konsep dan teori dari data yang dikumpulkan di lapangan, bukan menguji teori yang sudah ada sebelumnya.
  5. Penelitian kualitatif menggambarkan makna temuan dari perspektif partisipan itu sendiri. Peneliti tidak memaknsakan kerangka berpikirnya, melainkan berusaha memahami dunia dari sudut pandang subjek yang diteliti.
  6. Penelitian kualitatif bersifat fleksibel dalam prosesnya. Tidak seperti penelitian kuantitaif yang instrumennya sudah ditetapkan sejak awal, penelitian kualitatif memungkikan peneliti menyesuaikan penedekatan dan instrumennya sesuai dengan dinamika yang ditemukan di lapangan.

Jenis-jenis Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif memiliki beragam jenis pendekatan masing-masing dengan fokus dan tujuan yang berbeda. Berikut adalah beberapa jensi yang umum digunakan.

1. Etnografi
Etnografi merupakan metode penelitian yang bertujuan memahami budaya atau pola perilaku sutau kelompok masyarakat. Peneliti biasanya terlibat langsung dalam kehidupan sehari-hari kelompok yang diteliti dalam jangka waktu yang cukup lama. Metode ini sangat populer dalam penelitian antropologi budaya.

2. Studi Kasus
Studi kasus berfokus pada satu kasus atau objek secara mendalam, bisa berupa individu, kelompok, konteks spesifiknya. Metode ini banyak digunakan dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk peternakan.

3. Fenomenologi
Fenomenologi menganalisis pengalaman hidup seseorang untuk menemukan esensi atau makna dari pengalaman tersebut. Pendekatan ini berusaha menjawab pertanyaan: "Apa makna dari pengalaman ini bagi orang yang mengalaminya?".

4. Grounded Theory
Penelitian ini digunakan untuk membangun teori berdasarkan data yang dikumpulkan langsung dari lapangan secara sistematis. Teori yang "tumbuh" berdasarkan data, bukan diambil dari teori yang sudah ada sebelumnya.

5. Historis
Penelitian historis meneliti peristiwa masa lalu untuk memahami dampaknya terhadap masa kini. Metode ini mengandalkan dokumen-dokumen sejarah, arsip, dan catatan-catatan lama.

Metode Kerja Penelitian Kualitatif

Ada beberapa tahapan penelitian kualitatif menurut Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman. 

1. Membangun kerangka konseptual
2. Merumuskan permasalahan penelitian
3. Memilih sampel penelitian
4. Memilih instrumen penelitian
5. Mengumpulkan data
6. Menganalisis data
7. Mengevaluasi kesimpulan

Selain itu adapula tahapan praktis dalam melakukan penelitian kualitatif diantaranya ada tahapan pra lapangan, tahapan pekerjaan lapangan, tahapan analisis data.

Tahapan Pra-Lapangan

Pada tahapan ini peneliti mulai mempersiapkan segala hal yang akan dilakukan nantinya saat terjun ke lapangan. 
1. Merancang penelitian berdasarkan fenomena yang dapat diamati secara nyata.
2. Menentukan lokasi penelitian sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan data.
3. Mengurus perizinan seperti izin ke prangkat desa, instansi dan lembaga terkait.
4. Melakukan observasi awal dan adaptasi supaya peneliti memahami kondisi di lapangan.
5. Menentukan informan sebagai sumber data utama dan mitra penelitian.
6. menyiapkan instrumen penelitian, di mana peneliti berperan sebagai instrumen utama yang harus peka, adaptif, dan mampu mengintepretasi data.

Tahapan Pekerjaan Lapangan

Setelah selesai dengan tahapan pra-lapangan selanjutnya peneliti akan terjun langsung ke lapangan. Pada tahapan ini peneliti bekerja mengumpulkan data. 
1. Memahami situasi sosial dan budaya lokasi penelitian melalui interaksi dengan masyarakat.
2. Melakukan pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, forum group discussion (FGD) dan studi pustaka.
3. Menentukan strategi pengumpulan data (jenis pertanyaan, teknik, dan kualitas data).
4. Terlibat langsung dengan responden. 

Tahapan Analisis Data

Setelah semua data terkumpul selama penelitian di lapangan. Peneliti kemudian melakukan tahapan analisis data.
1. Pengumpulan dan reduksi data, tahapan ini peneliti memilih dan menyederhanakan data penting berdasarkan tema/kategori.
2. Penyajian data, data disajikan dalam bentuk grafik atau tabel.
3. Penarikan kesimpulan dan verifikasi, dari data yang telah dikumpulkan kemudian peneliti menyimpulkan hasil penelitian dan memastikan keabsahan data.
4. Menjamin keabsahan data melalui validitas, transferabilitas, dan dependabilitas serta konfirmabilitas.

Contoh Penelitian Kualitatif Bidang Peternakan

Ada banyak contoh yang bisa kita temukan di jurnal ataupun skripsi terkait penelitian kualitatif bidang peternakan. Saya akan memaparkan 1 contoh penelitian kualitatif bidang peternakan.


Judul: Analisis Pendapatan Usaha Peternakan Ayam Kampung Di Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya (Studi Kasus: Tigo Putra Farmer).

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis tingkat pendapatan usaha peternakan ayam kampung di Tigo Putra Farmer. Kegiatan penelitian berlangsung pada periode Juli 2021 hingga April 2022 dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan responden, observasi di lokasi penelitian, serta dokumentasi berupa gambar. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari sumber tidak langsung seperti Badan Pusat Statistik (BPS), jurnal ilmiah, dan buku referensi.

Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya produksi pada usaha peternakan Tigo Putra Farmer sebesar Rp61.467.300, dengan penerimaan sebesar Rp105.600.000. Pendapatan yang diperoleh mencapai Rp44.132.700, dengan keuntungan sebesar Rp6.132.700. Nilai R/C Ratio sebesar 1,71 mengindikasikan bahwa usaha tersebut menguntungkan dan layak untuk dijalankan karena nilai R/C Ratio lebih dari 1.

Penjelasan lebih lengkap dapat dibaca melalui laman berikut

Kesimpulan

Pada akhirnya kesimpulan yang bisa kita ambil pada artikel ini adalah penelitian kualitatif sangat berfokus pada mendalami makna dari data yang dikumpulkan. Peneliti menjadi instrumen penelitian. Data yang dikumpulkan berupa data yang bersifat naratif. Penelitian kualitatif mengumpulkan data dan membangun teori yang baru.

Demikian penjelasan mengenai penelitian kualitatif. Adapun untuk lebih mendalami dan memperkaya pengetahuan kita terkait penelitian kualitatif saya menawarkan buku yang berjudul Metodologi Penelitian Kualitatif

thumbnail

Memahami Dasar dan Konsep Penelitian Kuantitatif

Sebelumnya kita telah membahas mengenai metode ilmiah di artikel ini. Salah satu metode ilmiah adalah penelitian kuantitatif. Apa itu penelitian kuantitatif? Kapan penelitian kuantitaif itu dilakukan? dan Bagaimana merancang sebuah penelitian itu tergolong ke penelitian kuantitatif? Selengkapnya akan kita bahas di dalam artikel ini.

Pendahuluan

Penelitian atau riset sering kali datang karena ada kebutuhan dan tuntutan dari manusia. Rasa ingin tahu dan keinginan mengungkapkan kebenaran dari suatu fenomena alam sering sekali menjadi bahan bakar utama manusia melakukan penelitian. Dalam melakukan penelitian peneliti harus mampu melihat kesenjangan apa yang terjadi diantara teori dan realitas di lapangan yang peneliti amati.

Menemukan kesenjangan menjadi titik awal dalam penyelesaian masalah yang sedang diteliti. Dalam penelitian kuantitatif masalah ditemukan hingga diselesaikan (mendapatkan kesimpulan) dengan pendekatan penalaran deduktif yaitu proses berfikir logis dari premis umum untuk menghasilkan suatu kesimpulan (premis khusus). Jenis penalaran ini dikenal juga dengan silogisme. Penjelasana sederhana mengenai penalaran silogisme yaitu dengan menggunakan premis mayor (pernyataan umum) dan premis minor (pernyataan khusus). Kebenaran dari pengunaan penalaran ini tergantung pada isi atau premis yang disusun. Contohnya:

Premis Mayor: Semua hewan berkaki 4 adalah ruminansia

Premis Minor: Kucing berkaki 4

Konklusi: Kucing adalah ruminansia.

Dari contoh ini secara struktur penelarannya sudah benar namun ada masalah di bagian isinya sehingga masih ada pertanyaan di dalam setiap premis yang bisa diajukan sehingga setiap premis harus dibuktikan dengan data dan fakta. Secara konsep kerja penelitian kuantitatif akan melakukan pendekatan ini.

Dalam penelitian kuantitatif fenomena yang diamati biasanya selalu bisa ditangkap oleh panca indra, atau dialami langsung oleh si peneliti. Sehingga, data yang diperoleh biasanya bersifat empiris dan selalu dapat dihitung. Data angka menjadi ciri khas dalam penelitian kuantitatif. Data-data angka ini akan diintepretasikan atau dilakukan perhitungan matematis (analisis data) untuk melihat pola keterkaitannya antara satu variabel dengan variabel yang lain. Nah, dari pola-pola tersebut akan ketahuan mana yang berpengaruh dan mana yang tidak.

Data kuantitatif dapat dikelompokkan berdasarkan cara memperolehnya yaitu diskrit dan kontinum. Sementara itu, berdasarkan sifatnya data ini terdiri dari data nominal, data ordinal, data interval, dan data rasio.

Hasil penelitian kuantitatif akan dijabarkan sebagai jawaban terhadap penerimaan atau penolakan dari hipotesis yang sudah kita susun sebelumnya. Oleh karena itu, penelitian kuantitatif menyediakan hasil yang sifatnya objektif dan tidak tergantung dengan tendensi atau perspektif dari si peneliti. Namun, yang perlu diingat hasil penelitian ini bukan menghasilkan kebenaran "mutlak atau absolut" yang artinya kebenarannya masih bisa dibantahkan di kemudian hari apabila ditemukan hasil yang berbeda dengan menunjukkan data-data dan fakta yang kongkrit.

Apa itu Penelitian Kuantitatif?

Di dalam pendahuluan sudah ada beberapa poin tersirat mengenai sifat-sfiat penelitian kuantitatif. Secara ringkas saya jabarkan penelitian kuantitatif adalah jenis penelitian yang sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal penelitian. Definisi lain menjelaskan bahwa penelitian ini menuntut banyak data angka mulai dari pengumpulan data, intepretasi dan penetapan kesimpulan biasanya dimasukkan juga data angka hasil analisis.

Menurut Sugiyono (2012) 'metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang ditetapkan.

Penelitian kuantitatif bersifat bebas nilai yang artinya penelitian ini menerapkan prosedur yang ketat untuk mengurangi bias akibat persepsi atau hal-hal yang tidak objektif dari peneliti. Oleh karena itu, penggunaan instrumen penelitian sangat diperhatikan di dalam penelitian kuantitatif. Syarat instrumen penelitian haruslah valid dan reliable (andal) baru bisa dikatakan pendekatan kuantitatif sah. 

Kapan Penelitian Kuantitatif Dilakukan?

Tentunya akan menjadi pertanyaan kapan sebenarnya penelitian kuantitatif itu dilakukan? Jika kalian telah membaca bagian pendahuluan atau artikel ini pasti sudah faham. Namun, saya sampaikan seidikit pengulangan. Penelitian kuantitatif dilakukan saat data yang dikumpulkan adalah data dalam bentuk angka. Data yang membutuhkan pengolahan secara statistik.

Namun, jika kita di bidang peternakan yang masuk kategori ilmu terapan, umumnya masuk kategori penelitian kuantitatif. Jadi tidak perlu bingung lagi kapan menggunakan penelitian kuantitaif ini. Hanya saja perlu dilihat model penelitian kuantitaif yang digunakan nantinya, pemilihan metode, dan instrumen penelitian yang sesuai dengan tujuan penelitian. 

Bagaimana Melakukan Penelitian Kuantitatif?

Setelah memahami apa itu penelitian kuantitatif selanjutnya kita akan mencoba memahami bagaimana caranya kita merancang penelitian kuantitatif tersebut. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipersiapkan oleh peneliti dalam melakukan penelitian kuantitatif.

Hal-hal yang harus diperhatikan oleh peneliti sebelum melakukan penelitian kuantitatif:

  1. Melakukan studi pendahuluan atau kajian kepustakaan (literature)
  2. Menjelaskan latar belakang penelitian 
  3. Melakukan identifikasi masalah
  4. Memberikan batas penelitian
  5. Merumuskan masalah penelitian
  6. Menjelaskan tujuan penelitian
  7. Menguraikan manfaat penelitian
  8. Menjelaskan keterbatasan penelitian
  9. Merumuskan batasan konsep, konstruk dan istilah yang digunakan dalam penelitian
  10. Menjelaskan landasan teori dan kerangka pikir penelitian
  11. Mengemukakan penelitian yang relevan
  12. Merumuskan hipotesis/pertanyaan penelitian
  13. Menetapkan jenis penelitian yang digunakan
  14. Menetapkan area/wilayah penelitian
  15. Menetapkan populasi dan sampel penelitian
  16. Menyusun instrumen penelitian
  17. Uji coba instrumen
  18. Pengumpulan data
  19. Mengolah data, intepretasi data, dan menarik kesimpulan
  20. Menyusun laporan penelitian
Setiap poin bersifat hirarki dan memiliki hubungan yang kuat antara satu dan lainnya sehingga menghasilkan benang merah yang jelas. Metode di dalam penelitian kuantitatif biasanya hanya dua yaitu survei dan eksperimen. Perbedaan keduannya selain pada prosedur penelitian juga perbedaan instrumen penelitiannya.

Metode survei merupakan metode penelitian yang menggunakan kuisioner dalam mengumpulkan data. Pertanyaan di dalam kuisioner akan disusun sedemikian rupa agar merepresentasikan dengan tujuan penelitian. Jumlah sampel juga harus bisa merepresentasikan populasi sehingga data yang dihasilkan nanti valid. Biasanya untuk menentukan jumlah sampel dilakukan dengan rumus Slovin

Rumus ini membantu peneliti dalam menetapkan jumlah sampel yang akan diambil. Namun, biasanya ada syarat jumlah sampel di dalam suatu populasi agar rumus ini bisa digunakan yaitu lebih dari 100 sampel. Kemudian perlu dibuat batasan di dalam pemilihan sampel sehingga sampel benar-benar menggambarkan keseluruhan populasi. Keabsahan data atau validitas data harus diverifikasi oleh si peneliti dengan observasi atau perhitungan langsung. Kejujuran responden dan pemahanan responden terhadap pertanyaan harus diperhitungkan di dalam penelitian survei ini. 

Sebagai contoh kita bisa mengilustrasikan seperti penelitian Aspek Teknis Pemeliharaan Ternak Sapi di Kecamatan X. Kita perlu menyusun pertanyaan mengenai aspek teknis pemeliharaan sapi seperti Bagaimana Pemilihan Bibit? Bagaimana Pola Pemeliharaan? Bagaimana Pemberian Pakan? Jenis pakan dan Jumlah pakan yang diberikan? Frekuensi Vaksinasi? dll. 

Sebaiknya gunakan panduan sebagai rujukan seperti Panduan Pemeliharaan Ternak Sapi Potong yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian. Sehingga pertanyaan bisa terarah dengan jelas. Kemudian kita perlu mengetahui berapa jumlah peternak di kecamatan X. Data awal ini bisa diperoleh dari kantor camat atau dinas terkait di kabupaten/kota tersebut. Dari sini juga kita bisa memprediksi apakah jumlahnya cukup atau tidak untuk dijadikan sebagai sampel. Sehingga akan menentukan metode sampling yang digunakan nantinya. Nah, sampai disini pasti sudah memiliki banyak gambaran mengenai bagaimana cara kerja penelitian survei ini. 

Yang perlu diingat bahwa penelitian survei ini akan memberikan skor penilaian pada setiap jawaban kuisioner. Ingat, jenis penelitian kuantitatif harus mengumpulkan data dalam bentuk angka. apabila data diperoleh dalam bentuk kualitas maka harus dikuantitatifkan dengan cara pemberian skor. Berikut contoh skoring aspek teknis pemeliharaan ternak.

Metode eksperimen adalah selanjutnya yang akan kita bahas. Berbeda dengan metode survei, metode eksperimen menitikberatkan kepada pencarian sebab-akibat (kausalitas) antara satu variabel dengan variabel lain. Yang umum digunakan biasanya variabel terikat dan variabel bebas. Tidak terbatas pada menjelaskan kausalitas namun juga bisa menjelaskan atau memprediksi gerak atau arah kecenderungan suatu variabel di masa depan. Dalam penelitian eskperimen terdapat banyak variasi model diantaranya:
  1. One-shot case study
  2. One-group pretest-posttest
  3. Static Group
  4. Pretest-posttest control group
  5. Posttest only control group
  6. Time series
  7. Multiple time series
  8. Solomon
Dalam penelitian ilmu-ilmu sosial sering sekali eksperimen bersifat "kuasi" atau semu. Hal tersebut dikarenakan pengontrolan terhadap variabel-variabel yang diteliti sering kali tidak mungkin dilakukan secara ketat seperti dalam eksperimen ilmu-ilmu eksakta (yang tidak menggunakan unsur "manusia" sebagai objek penelitian). Penelitian eksperimen memiliki kelemahan diantaranya ada variabel lain di luar variabel yang sedang diteliti yang nantinya akan mempengaruhi hasil penelitian dan menjadi bias. Sehingga, pengendalian secara tepat terhadap variabel luar yang akan diteliti harus diperhatikan oleh si peneliti.

Contoh dari penelitian eksperimen dalam bidang peternakan Pengaruh Pemberian Limbah Ampas Tahu Dalam Ransum Terhadap Produksi Susu Kambing Perah. Dalam contoh kasus tersebut yang menjadi variabel bebas adalah pemberian limbah ampas tahu, selanjutnya untuk variabel terikat adalah produksi susu kambing perah. 

Pada penelitian ini ingin dilihat hubungan sebab akibat dari pemberian limbah ampas tahu di dalam ransum terhadap produksi susu kambing perah. Dalam pelaksanaan penelitiannya bisa digunakan model one group pretest-posttest. Dimana satu grup kambing sebanyak 20 ekor kambing perah yang sedang masa laktasi di periode 2 diambil sebagai sampel. 

Pada awalnya 20 ekor ini dipelihara selama 2 minggu dengan pakan ransum kontrol tanpa penambahan limbah ampas tahu dan dicatat selama 2 minggu tersebut jumlah produksi susunya. Kemudian di 2 minggu berikutnya dilakukan adaptasi pakan menggunakan limbah ampas tahu setelah itu baru 2 minggu kemudian dilakukan pengumpulan data. 

Adaptasi pakan dalam penelitian eksperimen ini penting dilakukan untuk menghindari varibael lain yang akan mempengaruhi produksi susu yaitu faktor stres akibat pergantian pakan secara tiba-tiba. Dari hasil penelitian ini nantinya akan dilihat bagaimana pengaruhnya dan bisa dihitung juga nilai korelasinya antara kedua perlakuan tersebut dengan menggunakan Uji T test.

Dari contoh tersebut kita sudah bisa menggambarkan bagaimana cara penelitian eksperimen tersebut dilakukan. Silahkan kalian mencari lagi contoh-contoh lain lagi dari model penelitian eksperimen yang telah disebutkan di paragraf atas. 

Kesimpulan

Penelitian kuantitatif adalah jenis penelitian ilmiah yang menggunakan angka sebagai sumber data untuk diolah, diintepretasikan dan dibuat kesimpulannya. Data bersifat empiris dan bertumpu pada filsafat positivisme. Penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan penalaran deduktif. Dan memiliki dua metode yaitu survei dan eksperimen. 

Semoga dari penjelasan singkat dan sederhana ini kalian bisa memahami dengan jelas konsep dasar dan aplikasi penelitian kuantitatif ini untuk kebutuhan tugas akhir. Tentunya artikel ini sangat dasar sekali sehingga dibutuhkan referensi lain untuk dibaca guna menambah pemahaman kalian yang lebih konprehensif.



thumbnail

Pengantar Metode Penelitian

"Temukan jawaban di balik fenomena alam maka akan mudah bagi kita memanipulasi peubah-peubah yang sedang kita amati"

Pernahkah kita memperhatikan fenomena alam seperti terjadinya hujan. Mengapa air bisa turun dari langit? Apakah ada gendorowo yang mengangkut air laut ke atas langit? Mungkin saat kecil kita belum mengetahui fakta sebenarnya. Namun, ketika sudah mulai beranjak dewasa dan bersekolah kita sudah menyadari bahwa air hujan itu berasal dari air yang ada di laut, danau, kubangan air yang menguap dengan cara evaporasi.

Penelitian adalah kegiatan mengungkap fakta dan fenomena alam. Penelitian disebut juga dengan research yang artinya re- (melakukan kembali) search (mencari tahu). Jadi, penelitian merupakan kegiatan pencarian kembali fakta dan fenomena. 

Kegiatan penelitian berasal dari keingintahuan (curiosity) manusia untuk mengungkap fakta dan fenomena. Rasa keingintahuan itu secara alamiah muncul dari akal budi manusia. Dari rasa keingintahuan inilah yang membuat perkembangan ilmu pengetahuan semakin maju. Ilmu pengetahuan yang berkembang menggunakan dasar-dasar pemikiran yang kuat, logis, dan terstruktur. Pemikiran inilah yang berkembang kemudian menjadi metode ilmiah.

Sebagai seorang akademisi tentunya kita selalu berhubungan dengan yang namanya Metode Ilmiah. Metode Ilmiah sebagai suatu sarana yang umumnya digunakan oleh peneliti untuk menemukan kebenaran baru, menguji kebenaran, dan melakukan pemecahan masalah. Oleh karena itu, metode ilmiah bersifat objektif, terukur, logis, dan dapat diuji ulang.

Metode ilmiah menjadi mata kuliah wajib yang perlu dikuasai oleh mahasiswa tingkat akhir. Skripsi adalah tugas akhir untuk syarat memperoleh gelar sarjana bagi mahasiswa S1. Penyusunan skripsi pasti akan dimulai dengan menentukan masalah/identifikasi masalah sebelum sampai pada menemukan pemecahan/solusi dari masalah tersebut. Disini letak metode ilmiah menyediakan langkah-langkah praktis dan terstruktur serta metologis untuk menyelesaikan skripsi tersebut.

Sebelum kita belajar lebih lanjut aplikasi metode ilmiah dalam penelitian ada baiknya kita terlebih dahulu memahami ciri-ciri dari metode ilmiah. 

Berikut beberapa poin penting yang menunjukkan ciri-ciri dari metode ilmiah:

  • Objektif - Berdasarkan fakta, bukan opini atau perasaan pribadi
  • Sistematis - Dilakukan melalui langkah-langkah yang terstruktur
  • Logis - Setiap langkah dapat dijelaskan dengan akal sehat dan rasional
  • Empiris - Didasarkan pada pengalaman dan data nyata yang bisa terima oleh panca indra manusia
  • Teruji - Hasil penelitian dapat diuji oleh peneliti lain
  • Universal - Berlaku umum, tidak terbatas pada individu atau tempat tertentu saja.
Pengembangan bidang ilmu peternakan tidak pernah lepas dari metode ilmiah. Setiap kali kita menemukan fenomena baru di lapangan atau kejadian alam yang bisa mempengaruhi produksi ternak misalnya, hal tersebut dapat kita telusuri penyebab munculnya fenomena tersebut. Dengan menemukan penyebab tersebut akan memudahkan kita melakukan manipulasi atau perubahan-perubahan variabel yang diinginkan.

Jenis-Jenis Penelitian

Ada beragam jenis penelitian yang bisa kita temukan di beberapa literatur. Ragam jenis penelitian ini dibedakan berdasarkan beberapa aspek seperti analisis data penelitian, tujuan penelitian, bidang ilmu, metode, dan pendekatannya. Ayuk kita bahas satu per satu:

1. Penelitian ditinjau dari data analisisnya

Dari data yang dikumpulkan dan metode analisis data yang dilakukan penelitian dapat dibagi menjadi penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Apa perbedaan dari kedua penelitian tersebut? seperti namanya kualitatif artinya data yang dikumpulkan bersifat kualitas seperti warna, gambar, karakteristik, dan deskripsi terhadap sesuatu, dan sebagainya. Sementara pada penelitian kuantitatif adalah penelitian yang mengumpulkan data yang bisa diukur dan dihitung seperti data numerik dan angka. Nah, sampai disini pasti kalian sudah faham apa yang membedakannya.



Contoh dari penelitian kualitatif adalah pengumpulan data organoleptik dari pengujian kualitas daging ayam yang dimasak dengan berbagai jenis bumbu. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini seperti warna, rasa, tekstur, dan aroma. 

Contoh penelitian kuantitatif adalah pemberian pakan jenis A terhadap pertumbuhan berat badan harian ternak. Jelas data yang akan dikumpulkan berupa berat badan. Jenis data tersebut adalah data rasio atau nilai angka.

Ayo kita lebih dalam membahas antara kedua penelitian tersebut:

Penelitian Kualitatif

Bagaimana kita mengenal bahwa suatu penelitian dikategorikan sebagai penelitian kualitatif? menurut Sujana dan Ibrahim (2001) penelitian kualitatif memiliki karakteristik sebagai berikut:
  • Menggunakan pola pikir sinduksi (empiris-rasional). Metode kualitatif sering digunakan untuk menghasilkan grounded theory,  yaitu teori yang timbul dari data bukan dari hipotesis.
  • Perspektfi pastisipan diutamakan.
  • Penelitian kualitatif tidak menggunakan rancangan penelitian yang baku. Rancangan penelitian berkembang selama proses penelitian.
  • Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memahami, mencari makna di balik data, untuk menemukan kebenara.
  • Subjek yang diteliti, data yang dikumpulkan, sumber data yang dibutuhkan, dan alat pengumpul data bisa beubah sesuai kebutuhan.
  • Pengumpulan data dilakukan atas dasar prinsip fenomenologis, yaitu dengan memahami secara mendalam gejala atau fenomena yang dihadapi.
  • peneliti berfungsi sebagai alat pengumpul data sehingga kebenarannya tidak terpisah dengan apa yang diteliti.
  • Analisis data yang dilakukan selama penelitian sedang dan telah berlangsung.
  • Hasil penelitian berupa deskripsi dan interpretasi dalam konteks waktu serta situasi tertentu.
Dari sini kita bisa memahami bahwa penelitian kualitatif memenuhi ciri-ciri metode ilmiah. Meskipun data yang diperoleh berupa data kualitas. Penelitian kualitatif dapat dibagi lagi menjadi beberapa jenis yaitu sebagai berikut, saya merangkumnya menjadi 6 jenis:
  1. Etnografi, adalah kajian yang dilakukan secara mendalam terkait peristiwa yang terjadi di kelompok sosial tertentu dengan tujuan memperoleh pemahaman budaya yang dipandang dari sisi pelaku budaya atau anggota kelompok budaya tersebut. Contoh: Budaya mawah ternak yang dilakukan oleh masayarakat Aceh.
  2. Studi kasus, adalah kajian yang dilakukan terhadap kasus-kasus tertentu. Tujuannya adalah untuk memahami gambaran yang mendalam tentang suatu kasus yang sedang diteliti. Pengumpulan data dilakukan dengan cara membagikan kuisioner, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Contoh: Kajian mengenai tingkat pemahaman peternak terhadap penanganan penyakit PMK di Desa A.
  3. Studi dokumen atau studi literatur, adalah kajian mengenai dokumen tertulis seperti buku teks, jurnal, naskah, dll. Contoh: Silase sebagai teknologi pakan ternak: Kajian literatur/Artikel Review.
  4. Fenomenologi, kajian ini merupakan kajian filosofis untuk memahami suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia. Manusia menjadi subjek utama dalam kajian ini. Kajian ini menunjukkan jalan perumusan ilmu pengetahuan melalui tahap-tahap tertentu, dimana suatu fenomena yang dialami manusia menjadi subjek kajiannya (Hasbiansyah, 2005). Sifat dari kajian ini adalah deskriptif. Kajian ini utamanya menjelaskan pemahaman esensi pengalaman manusia terhadap suatu peristiwa.
  5. Grounded Theory, penelitian ini bertujuan untuk pengembangan teori dari fenomena sosial ataupun fenomena alam dengan dukungan/bukti empiris yang diperoleh di lapangan. 
  6. Penelitian sejarah, penelitian ini bertujuan untuk menjawa rangkaian peristiwa yang terjadi di masa lampau secara sistematis dan objektif. Penelitian ini akan menggunakan berbagai jenis sumber data seperti teks, rekaman video, pelaku sejarah yang terlibat baik langsung ataupun tidak. Contoh: Sejarah masuknya pesebaran ternak perah yang ada di Indonesia. 

Penelitian Kuantitatif

Penelitian ini sering dilakukan dengan cara melakukan pengukuran dan pengumpulan data-data angka. Penalaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah deduktif. Gejala-gejala yang dilihat biasanya memiliki karakteristik tertentu yang saling berkaitan satu sama lain atau dikenal juga dengan variabel. Ada beragam variabel yang akan dilihat dalam penelitian ini. Namun, umumnya yang sering dilihat adalah variabel terikat dan variabel bebas. Namun. topik mengenai variabel tidak kita bahas disini. Penelitian kuantitatif memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Penalaran deduktif untuk memahami fenomena yang terjadi
  2. Bersifat positivistik, yaitu mengutamakan data empiris dan objektif dan menghindari sifat subjektif
  3. Rancangan penelitian sudah ditentukan sejak awal
  4. Digunakannya instrumen pengumpulan data seperti alat ukur yang memiliki standar universal
  5. Menerapkan proses analisis statistik dalam pengolahan data
  6. Peneliti merupakan bagian terpisah dari objek penelitian sehingga penelitian lebih objektif
  7. Karena bersifat deduktif maka hasilnya pasti generalisasi dan tidak terikan dengan waktu dan situasi

2. Penelitian Ditinjau dari Bidang Ilmu

Setiap penelitian memiliki cara dan pendekatan berbeda jika ditinjau berdasarkan bidang ilmunya. Hal ini berkaitan dengan objek kajian yang berbeda antara satu bidang dengan bidang lain. Tentunya fenomena yang dilihat juga berbeda-beda. Contohnya bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, biologi, fisika, matematika, teknologi pertanian, pertanian, kehutanan, peternakan, kedokteran, keteknikan, dll.

3. Penelitian Ditinjau dari Tujuannya

Penelitian memiliki tujuan yang berbeda beda. Ada yang khusus untuk pengembangan teori ada juga yang digunakan untuk memecahkan persoalan yang ada di lapangan. Ini juga masih berkaitan dengan bidang keilmuan. Oleh karena itu, tinjauan ini dibagi menjadi dua:

Penelitian Dasar

Penelitian ini disebut dengan penelitian murni karena bidang ilmu yang meliputinya adalah bidang ilmu murni seperti bidang Matematika, Fisika, Kimia, Biologi. Penelitian ini gunanya untuk membangun teori baru atau mengembangkan teori yang sudah ada serta menguji teori yang sudah ada. Biasanya penelitian dasar akan menghasilkan konsep-konsep yang bisa diaplikasikan dalam dunia praktis.

Penelitian Terapan

Penelitian terapan biasanya dilakukan dalam bidang-bidang ilmu terapan contohnya pertanian/peternakan. Konsep-konsep dasar yang sudah ditemukan di dalam penelitian dasar akan menjadi fondasi awal untuk kemudian akan dikembangkan atau diuji di dalam penelitian terapan. Contohnya kita mengetahui bahwa konsep energi di dalam tubuh makhluk hidup berkaitan dengan pengembangan tubuh ternak. Maka muncul pertanyaan bagaimana prosedur pemberian pakan yang optimal dengan sedikitnya energi yang terbuang. 

4. Penelitian Ditinjau dari Metode Penelitian Survei

Penelitian ex post facto

Penelitian ini dilakukan untuk mengungkap faktor-faktor apasaja yang mempengaruhi suatu peristiwa yang telah terjadi dan bagaimana runutan peristiwanya. contohnya seperti bagaimana penyebab terjadinya peristiwa kecelakaan tenggelamnya kapal Gurita.

Penelitian survei

Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan informasi berdasarkan jawaban dari kuisioner yang telah disusun sedemikian rupa. Kuisioner ada yang bersifat tertutup dimana jawaban dari responden biasanya sudah ditentukan seperti Iya atau Tidak. Ada pula jawabannya yang bersifat terbuka. Jenis jawaban yang diberikan biasanya lebih bebas dan sedikit intervensi dari peneliti. Jawaban-jawaban ini nantinya akan dikumpulkan dan menjadi data penelitian untuk melihat pola-pola yang muncul dari jawaban tersebut.

Penelitian naturalistik

Penelitian ini digunakan untuk meneliti suatu fenomena atau gejala alam dengan memberikan pemaparan terhadap gejala atau fenomena tersebut. Peneliti berperan sebagai instumen penelitian juga sehingga ada kemungkinan unsur subjektivitas di dalamnya. Sehingga jenis penelitian ini sangat bergantung pada pemahaman mendalam dari si peneliti.

Penelitian kebijakan

Penelitian ini digunakan untuk menganalisis peristiwa sosial di masyarakat yang hasilnya nanti akan dijadikan sebagai rumusan dalam membuat suatu kebijakan.

Penelitian tindakan

Penelitian ini dilakukan guna memperoleh metode yang paling efektif atau efeisien dalam kegiatan sehari-hari atau di dalam suatu organisasi. biasanya penelitian ini berkaitan dengan bidang ilmu manajemen.

Penelitian evaluasi

Penelitian ini utamanya adalah menilai atau mengeavluasi suatu produk, tindaka, prosedur apakah sudah sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan. Contohnya di bidang peternakan adalah evaluasi aspek teknis pemeliharaan ternak sapi di provinsi Aceh.

Penelitian sejarah

sudah kita jelaskan di bagian sebelumnya.

5. Penelitian Ditinjau dari Pendekatan

Penelitian deduktif

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan umum ke khusus. Dasarnya dimulai dari membuktikan teori yang telah ada. Kemudian akan dibangun sebuah hipotesis. Dilanjutkan dengan penyusunan metode observasi/rancangan penelitian untuk membuktikan teori tersebut. Hasilnya sebagai bentuk konfirmasi apakah benar atau tidak.

Penelitian induktif

Berlainan dengan pendekatan deduktif, pendekaktan induktif bergerak dari khusus ke umum. Penelitian ini dilakukan dengan cara melihat pola-pola yang terbentuk dari setiap objek penelitian yang sedang kita amati sehinngga memunculkan suatu kesimpulan yang menjadi sebuah teori baru.

6. Penelitian Ditinjau dari Tingkat Eksplanasinya

Tingkat eksplanasi ini artinya menjelaskan posisi dan hubungan antara variabel dalam suatu penelitian. Penelitian ini masih menggunakan pengukuran dan analisis statistik. Sehingga mampu menjelaskan gejala-gejala yang ditimbulkan oleh variabel yang sedang diamati/diukur. Ada beberapa jenis dari penelitian ini:

Penelitian deskriptif

Penelitian ini menjelaskan masing-masing variabel. Setiap variabel bisa saja tidak memiliki hubungan satu sama lain atau bersifat independen. Setiap variabel memiliki nilai dan karakteristiknya sendiri. Variabel bisa menjelaskan atau menggambarkan keadaan dari suatu populasi. Contohnya karakteristik limbah pertanian yang ada di Indonesia.

Penelitian komparatif

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan antar variabel. Tujuannya untuk mencari variabel mana yang memiliki pengaruh atau faktor terhadap objek yang sedang diteliti. Contohnya efek pemberian pakan A dan tanpa diberikan pakan A terhadap pertumbuhan ayam.

Penelitian asosiatif

Penelitian ini melihat hubungan antara variabel dan menjelaskan hubungannya. Dari penelitian ini akan mudah untuk membangun sebuah teori yang bisa menjelaskan, meramalkan, dan menhontrol suatu gejala. Contohnya hubungan morfologi tubuh kambing lokal di provinsi Aceh terhadap performa produksinya.

Tentunya jenis-jenis penelitian masih sangat banyak dan belum bisa dimuat di dalam tulisan ini. Tapi secara umum terutama di dalam bidang peternakan sudah banyak jenis-jenis penelitian yang terwakilkan. Dengan memahami jenis-jenis penelitin akan memudahkan kita tentunya untuk menentukan arah penelitian dan prosedur yang bisa digunakan.

Selanjutnya kita coba memahami apa saja langkah-langkah praktis yang dilakukan oleh seorang peneliti dalam menjalankan penelitiannya. Langkah-langkah ini tersusun secara sistematis dann sering digunakan untuk laporan ilmiah seperti Skripsi, Tesis, dan Disertasi. Secara umum prosedur penelitian dilakukan sebagai berikut:
  1. Menentukan masalah yang akan dikaji/diteliti
  2. Telah dilakukan studi pendahuluan baik itu berupa tinjauan kepustakaan atau telah dilakukan pra penelitian
  3. Merumuskan masalah dari studi pendahuluan
  4. Merumuskan hipotesis sebagai jawaban sementara yang akan diuji nantinya
  5. Memilih pendekatan 
  6. Menentukan variabel dan sumber data
  7. Menetapkan instrumen penelitian
  8. Pengumpulan data
  9. Analisis data
  10. Membuat hasil dan pembahasan serta penarikan kesimpulan
  11. Menulis laporan.
Demikian tulisan singkat mengenai pengantar metode penelitian yang mencakup apa itu metode ilmiah, apa yang menjadi karakteristiknya, apa saja jenis-jenis penelitian dari berbagai macam tinjauan serta bagaimana langkah-langkah praktis untuk menyusun laporan ilmiah.

Referensi:

https://masuk-ptn.com/materi/ruang-lingkup-biologi-materi-kelas-10/metode-ilmiah

Tersiana, A. (2018). Metode Penelitian. Start Up. Yogyakarta.

Hasbiansyah. O. (2008). Pendekatan fenomenologi: Pengantar praktik penelitian dalam ilmu sosial dan komunikasi. Mediator: Jurnal Komunikasi, 9(1), 163–180.



thumbnail

Penggunaan Pakan Berbasis Limbah Pertanian Untuk Ternak di Kawasan Tropis

Daerah tropis merupakan tempat surganya berbagai jenis flora yang tumbuh dan menjadi habitat berbagai jenis fauna terutama herbivora. Salah satu negara yang letaknya di kawasan tropis adalah Indonesia dengan julukan paru-paru dunia tidak mengherankan Indonesia menjadi pusat studi lingkungan. Keberlanjutan atau sustainibility perlu dipertimbangkan di dalam pengelolaan tata ruang yang ada di Indonesia. 

Subsektor pertanian seperti peternakan saat ini memiliki peran tersendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan asal hewan bagi masyarakat. Dengan konsep peternakan berkelanjutan tentu hal ini akan sejalan dengan pelestarian lingkungan yang ada di Indonesia. Salah satu upaya dalam mengelola peternakan berkelanjutan adalah dengan memanfaatkan sumber-sumber pakan yang berasal dari limbah pertanian yang selama ini tidak dimanfaatkan dengan optimal dan hanya dibuang.

Pemanfaatan limbah pertanian bisa sangat menguntungkan apabila mampu diolah menjadi pakan ternak baik sebagai pakan utama, pakan penguat atau suplemen bagi ternak. Konsep ini dikenal dengan istilah biokonversi. Istilah biokenversi sendiri merujuk ke pada mengubah substrat asal menjadi produk yang memiliki nilai tambah atau nilai ekonomis. Teknologi yang sudah dikenal luas dalam dunia peternakan adalah dengan melakukan fermentasi limbah pertanian. Mikroorganisme seperti kelompok yeast, kapang, bakteri bahkan serangga digunaan dalam mengubah bahan limbah menjadi sumber pakan ternak. 

Pengolahan limbah sawit yang difermentasi dengan kapang Aspergillus niger dapat mengubah sustrat yang kaya akan serat kasar menjadi pakan yang memiliki nilai nutrisi yang mudah dicerna oleh ternak ruminansia. contoh lain seperti mengubah limbah ampas tahu sebagai media pertumbuhan larva Black Soldier Fly atau maggot bisa meningkatkan nilai protein untuk pakan unggas. 

tentunya dengan biokonversi ini yang diuntungkan bukan hanya alam karena tidak adanya limbah yang terbuang yang dapat mengganggu ekosistem alam namun juga peternak. karena biaya paling besar dalam budidaya ternak adalah pakan yaitu 70%. Nah, untuk saat ini penelitian mengenai biokenversi limbah pertanian terus dilakukan untuk menjawab tantangan masa depan yaitu kebutuhan pangan dan isu lingkungan. 

muhammad resthu - 2026. Diberdayakan oleh Blogger.